UIN Alauddin Makassar Kukuhkan Tiga Guru Besar

Portal Wartawan, GOWA – Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, kembali mengukuhkan tiga Guru Besar atau Professor.

Pengukuhan ini dilaksanakan melalaui Sidang Senat Terbuka Luar Biasa di gedung Auditorium, Kampus II UIN, Kabupaten Gowa, Rabu (21/2/2024).

Ketiga guru besar yang dikukuhkan adalah, Prof Dr Misykat Malik Ibrahim M Si Professor dalam bidang Ilmu Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Kemudian Prof Dr Ir Muhammad Basir S. Paly M S dikukuhkan dalam bidang Ilmu Peternakan pada Fakultas Sains dan Teknologi.

Dan Prof Dr Muhammad Yusuf S Ag M Pd I dikukuhkan dalam bidang Ilmu Tafsir Fakultas Adab dan Humaniora.

Pidato pertama disampaikan, Prof Dr Ir Muhammad Basir S. Paly M S, berjudul mendefenisikan peternakan yang berbasis Islami.

Selanjutnya, Prof Dr Misykat Malik Ibrahim menyampikan pidato, berjudul Rekontekstualisasi Penilaian Autentik Di Era Digital.

Kemudian, Prof Dr Muhammad Yusuf bertajuk dialog teks dan konteks untuk pembacaan produktif.

Prof Hamdan Juhannis mengatakan, dari pidato ketiga guru besar, melahirkan tiga istilah pertama redefinisi beternak, bagi yang suka beternak ada redefinisi beternak disini, redefenisi asesmen, refedenisi teks dan konteks jadi mereka sepakat istilah rekontekstualisasi.

Menurut Prof Hamdan Juhannis, miliki dua hal dalam hidup, yang pertama miliki buku dan miliki teman.

“Perlu diselami satu buku sering lebih berharga dari 100 teman biasa, namun satu teman baik lebih berharga dari 100 tumpukan buku,” pesan Pria kelahiran Bone ini.

Baca Juga :  Poltekpar Makassar Gelar Bimtek Pengembangan Pengelolaan Desa Wisata di Kabupaten Penajam Paser Utara

Menurut Alumnus Australia National University ini, satu buku memberikan satu pengetahuan hasil riset, 100 teman biasa bisa saja memberikan setiap hari informasi yang tidak terverifikasi menyampaikan hoax, gosip.

“Satu teman baik berharga dari 100 buku, itulah teman baik yang sering menjadi pepatah orang Inggris, teman sebenarnya adalah teman saat kita butuh, bukan teman yang menjejali nasehat padahal tidak dibutuhkan, tapi teman sesungguhnya adalah tau kebutuhan kita baru mereka menasehati,” pungkasnya.